ABSTRAK Kabib Musafingi. (2026). “Peran Pendidikan Agama Islam dalam Keluarga dan Budaya Religius Sekolah Terhadap Pembentukan Karakter Siswa Kelas VIII di SMPN 10 Kota Madiun”. Tesis. Program Studi Magister Pendidikan Agama Islam. Pascasarjana. Institut Agama Islam Sunan Giri (INSURI) Ponorogo. Pembimbing I: Prof. Dr. H.M. Suyudi, M.Ag. Pembimbing II: Dr. Arik Dwijayanto, M.A. Penelitian ini dilatarbelakangi pentingnya kolaborasi antara lingkungan domestik (keluarga) dan institusi formal (sekolah) dalam membina moralitas remaja pada fase transisi pubertas yang rentan. Fokus penelitian ini adalah mengeksplorasi secara mendalam bentuk integrasi antara peran Pendidikan Agama Islam (PAI) di lingkungan keluarga dan implementasi budaya religius sekolah dalam membentuk karakter religius siswa kelas VIII di SMP Negeri. Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah kualitatif dengan desain studi kasus deskriptif. Pengumpulan data dilakukan melalui wawancara mendalam dengan guru PAI, kepala sekolah, orang tua siswa, dan perwakilan siswa kelas VIII, serta dilengkapi dengan observasi partisipatif dan dokumentasi program keagamaan. Analisis data menggunakan teknik reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan tiga temuan utama: (1) Peran PAI dalam keluarga mengalami kelumpuhan fungsi akibat hambatan struktural waktu orang tua pekerja urban (vacuum of religious control). Hal ini memicu hilangnya figur keteladanan, lemahnya pengawasan gawai (digital parenting), kebohongan ritual, serta terjadinya pelimpahan beban moral secara mutlak ke sekolah (moral displacement). (2) Implementasi budaya sekolah berjalan sangat optimal melalui rekayasa sosial terstruktur (pembiasaan Asmaul Husna, tadarus pagi, gerakan salat zuhur berjamaah, dan budaya 5S). Namun, keberhasilan ini terbatas oleh kendali waktu sekolah (temporal boundaries) sehingga kepatuhannya baru bersifat periferal atau kesalehan formal-performatif. (3) Hubungan mesosistem antara keluarga dan sekolah mengalami keretakan fungsional (functional rupture). Saluran koordinasi seperti Buku Kendali Ibadah hanya menjadi formalitas administratif belaka tanpa verifikasi riil. Celah hampa komunikasi ini dimanfaatkan oleh siswa kelas VIII untuk melakukan manipulasi perilaku, yang melahirkan fenomena dualisme karakter (split-personality). Kesimpulan penelitian menegaskan bahwa pembentukan karakter religius yang autentik memerlukan sinkronisasi ekologis yang kuat antara lingkungan rumah dan sekolah.. Kesimpulan penelitian menegaskan bahwa pembentukan karakter religius yang autentik memerlukan sinkronisasi ekologis yang kuat antara lingkungan rumah dan sekolah. Kata Kunci: Pendidikan Agama Islam, Budaya Sekolah, Mesosistem, Dualisme Karakter, SMPN 10 Kota Madiun. ABSTRACT Kabib Musafingi. (2026). “The Role of Islamic Religious Education in the Family and School Religious Culture on Character Building of 8th Grade Students at SMPN 10 Kota Madiun”. Thesis. Master's Program in Islamic Religious Education. Postgraduate Program. Sunan Giri Islamic Institute (INSURI) Ponorogo. Advisor I: Prof. Dr. H.M. Suyudi, M.Ag. Advisor II: Dr. Arik Dwijayanto, M.A. This research is motivated by the critical importance of collaboration between the domestic environment (family) and formal institutions (school) in nurturing adolescent morality during the vulnerable pubertal transition phase. The primary focus of this study is to explore in depth the integration between the role of Islamic Religious Education (IRE) within the family environment and the implementation of school religious culture in shaping the religious character of eighth-grade students in public junior high schools. A qualitative approach with a descriptive case study design was employed. Data collection was carried out through in-depth interviews with IRE teachers, the school principal, parents, and eighth-grade student representatives, complemented by participant observation and documentation of religious programs. Data analysis utilized data reduction, data display, and conclusion drawing techniques. The results reveal three major findings: (1) The role of IRE within the family experiences functional paralysis due to structural time constraints faced by urban working parents, leading to a vacuum of religious control. This triggers a lack of role models, weak digital parenting, ritualistic lies, and total moral displacement onto the school. (2) The implementation of school culture runs optimally through structured social engineering (Asmaul Husna recitation, morning Quranic reading, congregational Dhuhr prayers, and the 5S culture). However, this success is limited by school temporal boundaries, making student compliance merely peripheral or a formal-performative virtue. (3) The mesosystem relationship between families and the school suffers from a functional rupture. The study concludes that authentic religious character formation demands tight ecological synchronization between home and school environments. Keywords: Islamic Religious Education, School Culture, Mesosystem, Split-Personality, SMPN 10 Kota Madiun.